Sebuah kisah…Ceritane, dulu…dulu banget pokoke. Di sebuah kampung kecil, dalam sebuah gubug kecil di pinggir desa. Dekat hutan kecil, di tepian sungai yang airnya mengalir jernih. Ada bapak-bapak yang katakanlah cukup tua. Ia tinggal sendirian di gubungnya, tanpa ditemani anak cucunya. Tapi ia sangat tekun beribadah. Tiap waktunya dihabiskan untuk beribadah. Terus-menerus sujud dan mensucikan nama-Nya. Saking sibuknya beribadah, dia tidak pernah sekalipun bertegur sapa, dengan warga kampung. Hidup menyendiri di gubug mungilnya tanpa pernah peduli dengan warga sekitarnya. Itu dilakukan selama bertahun-tahun.

Nah, ceritane…(lagi) suatu hari kampung bapak tua ini kedatangan orang asing. Kabar dari kampung-kampung sebelah, orang asing ini bukan orang sembarangan. Ia punya kelebihan yang tidak dimiliki sembarang orang. Selain akhlaknya yang luar biasa shaleh, ilmu agama dan pengetahuannya yang luas, kabarnya ia juga bisa bercakap-cakap dengan Allah.

Orang asing ini kabarnya juga sudah sering sekali keluar masuk hutan, berkelana dari desa ke desa lain untuk menyampaikan ajakan untuk mentauhidkan Allah. Masuk dari rumah satu ke rumah lain, atau berdiri di atas mimbar dalam majelis taklim.

Kabar kedatangan orang asing yang sholeh ini sampai juga ke bapak tua. Dengan tergopoh-gopoh ia datang ke majelis taklim yang dihadiri si orang shaleh. Tidak peduli dengan keringat yang masih becucuran, napas yang masih memburu, segera mencari tempat untuk duduk dan mendengarkan ceramah si orang shaleh. Sabar, ia menunggu sampai ceramah selesai dan warga kampung pulang ke rumah masing-masing. Uh…lama banget. Tapi bapak tua tetap sabar menunggu. Setelah semua warga meninggalkan majelis taklim, bapak tua itu sigap menemui orang shaleh. Dengan PD luar biasa tinggi bertanya, “Pak ustadz, saya sudah berpuluh-puluh tahun beribadah kepada Allah. Sebagian hidup saya telah saya habiskan dengan sujud dan mensucikan nama-Nya. Tolong tanyakan pada Allah, saya masuk surga sebelah mana?”.

Orang shaleh itu terdiam, mungkin sedikit keheranan dengan bapak tua itu. Sampai akhirnya turun firman Allah, “Hai orang shaleh…katakan pada bapak tua itu, ia masuk neraka!”. Orang shaleh ini awalnya bingung juga, ada orang yang rajin beribadah seperti bapak tua ini kok malah masuk neraka. Tapi akhirnya setelah sedikit memantapkan hati, orang shaleh ini berkata kepada bapak tua, “Sabar nggih pak, bapak masuk neraka”.

Muka bapak tua itu merah padam. Ia sama sekali tidak menyangka jawaban seperti itu yang ia terima. Tanpa mengucap kata apapun, dengan langkah gontai ia berjalan ke arah pinggir desa, menuju gubungnya yang mungil. Orang shaleh itu hanya terdiam, terpaku sejenak, mungkin merasa iba dengan bapak tua itu. Tapi tak lama menjelang, turun lagi firman Allah, “Hi orang shaleh, katakan lagi pada bapak tua itu, ia masuk surga.”

Senyum tersungging di wajah orang shaleh. Segera, ia berlari ke gubug bapak tua untuk mengabarkan berita gembira itu. Ia menemukan bapak tua itu sedang menangis di dalam gubugnya. Ia berkata pelan, “Sabar pak, bapak sekarang masuk surga. Sebenarnya, saya juga tidak tahu amalan apa yang membuat bapak bisa masuk surga. Mungkin, bapak bisa cerita, apa yang bapak lakukan setelah majelis taklim tadi?”

Terbata-bata, sambil sesekali mengusap air mata, pelan bapak tua itu mulai bercerita, “ Saya sangat sedih mendengar jawaban anda tadi. Setelah saya sampai di rumah, tangis saya sudah tidak terbendung lagi. Lantas saya berdoa, ya Allah…sekiranya Engkau memasukkan aku ke nerakaMu, maka jadikanlah tubuhku membesar, sedemikian rupa hingga tidak akan ada tempat lagi untuk orang lain menempati neraka…” ^_^

(cerita ini diilhami dari kisah Nabi Musa dan ahli ibadah yang masuk neraka)

Mungkin, sebelumnya kalian sudah pernah mendengar kisah ini. Dalam versi yang lebih bisa dipertanggungjawabkan isi dan keasliannnya tentu saja. Cerita ini sebenarnya sebuah hadist hasan yang diriwayatkan oleh…maaf saya lupa.

Saya hanya mendengar cerita ini dari kakak saya. Tapi intinya bukan itu. Setiap kisah tentu saja memiliki hikmah. Inti cerita ini adalah kisah tentang orang yang keshalehannya hanya untuk dirinya sendiri. Ia tidak sekalipun bermanfaat terhadap orang lain di sekitarnya. Doanya yang diucapkan pada akhir cerita telah membuatnya secara tidak langsung berinteraksi dengan setiap manusia yang ada di sekitarnya. Ia tidak lagi seperti intan yang indah berkilau diantara bebatuan cadas yang tidak bemanfaat bagi sekitarnya. Tapi seperti sebatang pohon di sebuah padang luas. Ia tidak hanya indah dipandang mata dan menyejukkan hati, tetapi ia juga memberikan kemanfaatan bagi lingkungan sekitarnya.

Yang rajin baca novel atau cerpen mungkin akan menemukan kisah senada yang juga diungkapkan A. Navis dalam sebuah cerpennya, Rubuhnya Surau Kami. Pertanyaan yang tersisa adalah: ….Apakah kita akan menjadi bagian dari kisah-kisah seperti ini juga?….

…jalan ini masih panjang…
…smangat n senyum nggih…

~KAtS~