Feeds:
Tulisan
Komentar

jangan lupa datang ya

insya Allah sesuai dengan kesepakatan kemarin, rapat rutin bulanan majelis syariah akan dilaksananakan tanggal 9 juni 2009. jam 9 @MMU. wah angkanya sembilan semuanya nih…hehehe

bagi yang mau datang…ikutan aja ya

Ikhwan GANTENG, Partner Sejati Akhwat?
Oleh : Ayat Al Akrash

Alangkah indahnya Islam. Kedudukan manusia dinilai dari ketaqwaannya, bukan dari gendernya. Ini adalah strata terbuka sehingga siapa saja berpeluang untuk memasuki strata taqwa.

Ikhwan dan akhwat adalah dua makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbeda. Ikhwan, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan rasionalitasnya karena ia adalah pemimpin bagi kaum hawa. Akhwat, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan sensitivitas perasaannya karena ia akan menjadi ibu dari anak-anaknya.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9: 71)

Di lapangan, ikhwan dan akhwat harus menjaga hijab satu sama lain, namun tentu bukan berarti harus memutuskan hubungan, karena dalam da’wah, ikhwan dan akhwat adalah seperti satu bangunan yang kokoh, yang sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.

Belakangan ini menjadi sebuah fenomena baru di berbagai LDK kampus tentang sedikit ‘konfrontasi’ ikhwan dengan akhwat. Tepatnya, tentang kurang cepat tanggapnya da’wah para ikhwan yang notabene adalah partner da’wah dari akhwat.

Patut menjadi catatan, mengapa ADK akhwat selalu lebih banyak dari ADK ikhwan. Walau belum ada penelitian, tetapi bila melihat data kader, pun data massa dimana jumlah akhwat selalu dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan ikhwan, maka dapat diindikasikan bahwa ghirah, militansi dan keagresifan berda’wah akhwat, lebih unggul. Meski memang hidayah itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tentu kita tak dapat mengabaikan proses ikhtiar.

Akhwat Militan, Perkasa dan Mandiri? Sejak kapankah adanya istilah Akhwat militan, perkasa dan mandiri ini? Berdasarkan dialog-dialog yang penulis telaah di lapangan, dan di beberapa LDK, ternyata hampir semua akhwat memiliki permasalahan yang sama, yaitu tentang kurang cepat tanggapnya ikhwan dalam menghadapi tribulasi da’wah. Bahkan ada sebuah rohis yang memang secara turun temurun, kader-kader akhwatnya terbiasa mandiri dan militan. Mengapa? Karena sebagian besar ikhwan dianggap kurang bisa diandalkan. Dan ada pula sebuah masjid kampus di Indonesia yang hampir semua agenda da’wahnya digerakkan oleh para akhwat. Entah hilang kemanakah para ikhwan.

Akibat seringnya menghadapi ikhwan semacam ini, yang mungkin karena sangat gemasnya, penulis pernah mendengar doa seorang akhwat, “Ya Allah…, semoga nanti kalau punya suami, jangan yang seperti itu… (tidak cepat tanggap–red),” ujarnya sedih.

Nah!
Ikhwan GANTENG

Lantas bagaimanakah seharusnya ikhwan selaku partner da’wah akhwat? Setidaknya ada tujuh point yang patut kita jadikan catatan dan tanamkan dalam kaderisasi pembinaan ADK, yaitu GANTENG (Gesit, Atensi, No reason, Tanggap, Empati, Nahkoda, Gentle). Beberapa kisah tentang ikhwan yang tidak GANTENG, akan dipaparkan pula di bawah ini.

(G) GESIT DALAM DA’WAH
Da’wah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Ada sebuah kisah tentang poin ini. Dua orang akhwat menyampaikan pesan kepada si fulan agar memanggil ikhwan B dari masjid untuk rapat mendesak. Sudah bisa ditebak…, tunggu punya tunggu…, ikhwan B tak kunjung keluar dari masjid. Para akhwat menjadi gemas dan menyampaikan pesan lagi agar si fulan memanggil ikhwan C saja. Mengapa? Karena ikhwan C ini memang dikenal gesit dalam berda’wah. Benar saja, tak sampai 30 detik, ikhwan C segera keluar dari masjid dan menemui para akhwat. Mobilitas yang tinggi.

(A) ATENSI PADA JUNDI
Perhatian di sini adalah perhatian ukhuwah secara umum. Contoh kisah bahwa ikhwan kurang dalam atensi adalah ketika ada rombongan ikhwan dan akhwat sedang melakukan perjalanan bersama dengan berjalan kaki. Para ikhwan berjalan di depan dengan tanpa melihat keadaan akhwat sedikitpun, hingga mereka menghilang di tikungan jalan. Para akhwat kelimpungan.., nih ikhwan pada kemana? “Duh.., ikhwan ngga’ liat-liat ke belakang apa ya?” Ternyata para ikhwan berjalan jauh di depan, meninggalkan para akhwat yang sudah kelelahan.

(N) NO REASON, DEMI MENOLONG
Kerap kali, para akhwat meminta bantuan ikhwan karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh akhwat. Tidak banyak beralasan dalam menolong adalah poin ketiga yang harus dimiliki oleh aktivis. Contoh kisah kurangnya sifat menolong adalah saat ada acara buka puasa bersama anak yatim. Panitia sibuk mempersiapkannya. Untuk divisi akhwat, membantu antar departemen dan antar sie adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Para akhwat ini kemudian meminta tolong seorang ikhwan untuk memasang spanduk. “Afwan ya…, amanah ane di panitia kan cuma mindahin karpet ini…,” jawab sang ikhwan sambil berlalu begitu saja karena menganggap tugas itu bukanlah amanahnya.

(T) TANGGAP DENGAN MASALAH
Permasalahan da’wah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Sebuah kisah, adanya muslimah yang akan murtad akibat kristenisasi di sebuah kampus. Aktivis akhwat yang mengetahui hal ini, menceritakannya pada seorang ikhwan yang ternyata adalah qiyadahnya. Sang ikhwan ini dengan tanggap segera merespon dan menghubungi ikhwan yang lainnya untuk melakukan tindakan pencegahan pemurtadan.
Kisah di atas, tentu contoh ikhwan yang tanggap. Lain halnya dengan kisah ini. Di sebuah perjalanan, para akhwat memiliki hajat untuk mengunjungi sebuah lokasi. Mereka kemudian menyampaikannya kepada ikhwan yang notabene adalah sang qiyadah. Sambil mengangguk-angguk, sang ikhwan menjawab, “Mmmm….” “Lho… terus gimana? Kok cuma “mmmmm”…” tanya para akhwat bingung. Sama sekali tidak ada reaksi dari sang ikhwan. “Aduh… gimana sih….” Para akhwat menjadi senewen.

(E) EMPATI
Merasakan apa yang dirasakan oleh jundi. Kegelisahan para akhwat ini seringkali tercermin dari wajah, dan lebih jelas lagi adalah dari kata-kata. Maka sebaiknya para ikhwan ini mampu menangkap kegelisahan jundi-jundinya dan segera memberikan solusi.

Contoh kisah tentang kurang empatinya ikhwan adalah dalam sebuah perjalanan luar kota dengan menaiki bis. Saat telah tiba di tempat, ikhwan-akhwat yang berjumlah lima belas orang ini segera turun dari bis. Dan bis itu melaju kembali. Para akhwat sesaat saling berpandangan karena baru menyadari bahwa mereka kekurangan satu personel akhwat, alias, tertinggal di bis! Sontak saja para akhwat ini dengan panik, berlari dan mengejar bis. Tetapi tidak demikian halnya dengan ikhwan, mereka hanya berdiri di tempat dan dengan tenang berkata, “Nanti juga balik lagi akhwatnya.”

(N) NAHKODA YANG HANDAL
Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ia adalah nahkoda kapal. Lantas bagaimanakah bila sang nahkoda tak bergerak? Alkisah, tentang baru terbentuknya kepengurusan rohis. Tunggu punya tunggu…, hari berganti hari, minggu berganti minggu, ternyata para ikhwan yang notanebe adalah para ketua departemen, tak kunjung menghubungi akhwat. Akhirnya, karena sudah “gatal” ingin segera gerak cepat beraksi dalam da’wah, para akhwat berinisiatif untuk “menggedor” ikhwan, menghubungi dan menanyakan kapan akan diadakan rapat rutin koordinasi.

(G) GENTLE
Bersikap jantan atau gentle, sudah seharusnya dimiliki oleh kaum Adam, apatah lagi aktivis. Tentu sebagai Jundullah (Tentara Allah) keberaniannya adalah di atas rata-rata manusia pada umumnya. Namun tidak tercermin demikian pada kisah ini. Sebuah kisah perjalanan rihlah. Rombongan ikhwan dan akhwat ada dalam satu bis. Ikhwan di depan dan akhwat di belakang. Beberapa akhwat sudah setengah mengantuk dalam perjalanan. Tiba-tiba bis berhenti dan mengeluarkan asap. Para ikhwan segera berhamburan keluar dari bis. Tinggallah para akhwat di dalam bis yang kelimpungan. “Ada apa nih?” tanya para akhwat. Saat para akhwat menyadari adanya asap, barulah mereka ikut berhamburan keluar. “Kok ikhwan ninggalin gitu aja…” ujar seorang akhwat dengan kecewa.

PENUTUP:
Fenomena ketidak-GANTENG-an ikhwan ini, akan dapat berpengaruh pada kinerja da’wah. Ikhwan dan akhwat adalah partner da’wah yang senantiasa harus saling berkoordinasi. Masing-masing ikhwan dan akhwat memang mempunyai kesibukannya sendiri, namun ikhwan dilebihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sebagai pemimpin. Sehingga wajar saja bila yang dipimpin terkadang mengandalkan dan mengharapkan sang qawwam ini bisa jauh lebih gesit dalam berda’wah (G), perhatian kepada jundinya (A), tidak banyak alasan dalam menolong (N), tanggap dalam masalah (T), empati pada jundi (E), menjadi nahkoda yang handal (N) dan mampu memberikan perlindungan (G). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kaum laki-laki adalah pemimpin (qawwam) bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)…” (QS. An-Nisa’:34).

Kita harapkan, semoga semakin banyak lagi ikhwan-ikhwan GANTENG yang menjadi qiyadah sekaligus partner akhwat. Senantiasa berkoordinasi. Ukhuwah di dunia, dan di akhirat. Amiin. []

mailing list KITTA

wey kawan2! KITTA dah punya mailinglist lho…

cepetan join yups!
caranya, kirim email kosong ke: knights_of_metamorphosa-subscribe@yahoogroups.com

okay ya!! ^_^

…dan semoga saja komunikasi-koordinasi diantara KITTA bisa lebih baik lagi…

..aamiin…

wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…

notulensi mei

alhamdulillah. …meskipun banyak yang ijin, rapatnya masih jalan juga. dari beberapa undangan, beberapa konfirmasi tapi, ada juga yang tidak

peserta yang datang:

- fathan

- KAtS

- unggul

- jun

- didit (menggantikan fajar as majelis kaderisasi)

- panji

- ridho (sekalian gantiin aza)

yang tidak hadir:

- tya (ijin ada acara)

- aza (izin aai, tapi digantikan rdho)

- risma (izin ada acara)

- fajar (as lsis-izi ada acara)

agenda:

- evaluasi majelis dan lembaga + rekomendasi

- tentang reunion

- tentang milis

kebiasaan buruk nih…molor. sampai jam 4 tepat baru fathan sama KAtS yang datang. 4 lewat 5 nambah jun wa unggul, tapi si jun makan dulu. akhirnya, rapat dimulai 4.16 waktu jam KAtS.

seperti biasa, setelah dibuka dan tilawah + basa basi n ketawa-ketawa rapat segera membahas agenda satu persatu. agenda pertamanya, evaluasi majelis.

majelis syariah:

dari 4 bulan kerja, alhamdulillah sempat ketemuan 3 kali. bulan april tidak jadi ketemuan karena banyak yang berhalangan. sampai saat ini, majelis syariah baru mengeluarkan satu ketetapan dan beberapa kesepakatan terkait kerja internal majelis syariah. ketetapan yang dibuat sudah dipublish lewat web. bulan-bulan setelahnya pembahasan lebih difokuskan ke masalah internal kader yang terjadi kemarin.

poin evaluasi:

- ketetapan yang dibuat belum dibaca

- web belum maksimum

- kitta belum dimiliki oleh semuanya (indikatornya web)

majelis kaderisasi:

selama ini baru sempat satu kali ketemuan. proyek pembuatan draft kaderisasi masih nanggung, sepertinya kemarin ada sedikit salah paham terkait dengan pengertian dan ruang lingkup draft.

poin rekomendasi:

- mekanisme kerja kalau bisa mengikuti ketetapan yang sudah dibuat

- proyek draft segera diselesaikan

- format draft mengambil dari gamasi atau fsldik tapi konten buatan sendiri

- draft diajukan ke masul starco untuk disetujui

- mekanisme pembuatan draft lewat tim khusus

majelis internal

sama, baru satu kali ketemuan. tekad tetap dilaksanakan bulan mei tanggal 10, tapi ada isu mau digabung dengan pembentukan angkatan 2008. (tapi masih isu kok). agenda yang berjalan, baru survey, itupun belum maksimal. mungkin harus banyak evaluasi lagi.

poin rekomendasi:

- mekanisme kerja kalau bisa mengikuti ketetapan yang sudah dibuat

- perencanaan yang lebih rigid dan sistematis aja

mengenai evaluasi lembaga, perwakilan yang hadir cuma dua, dari bem dan kmfm. gak tahu juga nih. mosok lsis yang kadernya banyak gak bisa datang satu aja. padahal sudah diminta kemarin-kemarin.

kmfm

kurang kompak aja

agenda terdekat–> pmb, ramadhan, ugd2

bem

sama, kurang kompak

agenda terdekat–> pmb…banyak wis. juga ada mui

mungkin ini cuma kesan KAtS tapi sepertinya ini rada dipaksakan karena sudah hampir maghrib, pembahasannya kilat.

beberapa keputusan yang disepakati:

- webnya dimaksimalkan

- buat milis. PJ: KAtS

- ketetapan yang dibuat kemarin ditegaskan

- buat acara untuk riayah kader di akhir mid semester depan. PJ: internal

- revitalisasi kerja majelis

Ah, apakah menulis sulit?

Hanya menuliskan beberapa kata, memberinya makna leksikal. Lalu merangkainya membentuk baris-baris kalimat, memberinya makna gramatikal. Hanya menaruh kepada kata-kata itu sebuah makna. Memberinya arti, entah itu kisah, narasi, prosa, eksposisi, atau lantunan syair dan puisi-puisi. Itulah menulis. Ambil saja secarik kertas, lalu biarkan jemari-jemari mungil itu menari-menari mengikuti fluks gelombang otak yang meledak-ledak. Ciptakanlah keajaiban dengan tulisan.

Dalam narasi ini –meskipun entah apakah tulisan ini memang layak disebut narasi- menulis toh adalah sebuah keajaiban. “keajaiban yang hanya bisa ditemukan pada orang-orang yang bermetamorfosa”, kata si penulis. Faktanya, orang yang menciptakan tulisan ini toh menguasai ketrampilan membuat tulisan hanya dalam satu malam. Malam yang ajaib. Entah. Malam itu ia tiba-tiba saja mampu bermain dengan ribuan kata-kata yang menari di benaknya dan menciptakan tulisan pertamanya. Sebuah prosa, yang hanya berkisah pendek tentang seekor kucing dalam imajinasinya. Bukan tulisan yang luar biasa memang, toh hanya ia yang mampu menangkap metafora-metafora yang ia rajutkan dalam simbol-simbol tulisan pertamanya. Egois. Biarlah. Ia memang tidak memberikan petunjuk sedikitpun untuk orang lain memahami elan tersembunyi dari kumpulan metafor itu. Tapi baginya, tulisan itu adalah sebuah keajaiban.

Baiklah, ia memang pernah memiliki guru-guru bahasa yang ‘menurutnya’ luar biasa. Dalam satu bagian penggalan narasinya tentang masa lalu. Dan memang pada kenyataanya demikian. Guru-guru bahasa itu adalah karakter yang telah membentuk kepribadiaannya sehingga anda menemukannya seperti sekarang ini. Seorang ‘guru’ yang menyadarkan dirinya dari ketololannya tidak bisa menulis huruf ‘f’, seorang ‘bapak’ yang mengajarinya tentang narasi sebuah masa, seorang ‘ibu’ multi talenta yang menguasai langgam-langgam jawa nan susah dibaca, sekaligus ‘kawan’ untuk bercanda, dan sekaligus ‘teman’ debat yang kadang menjengkelkan. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Ajaib. Tapi toh mereka belum mampu membuat si penulis mampu bermain dengan rangkaian kata-kata dalam otaknya, menulis!

Baiklah, kadang-kadang penulis juga hilang sebagian kesadarannya dan tiba-tiba menuliskan ‘sesuatu’ yang menarik. Ia duduk di depan mesin ketik tua, dan tiba-tiba jari-jarinya menari-nari dengan cepatnya diatas tuts-tuts yang sudah berkarat. Ia tiba-tiba menulis! Sebuah puisi aneh dengan permainan rima, bertajuk si Joni. Entah, ia juga tidak tahu. Tulisan itu seketika sudah ada di depannya ketika ia tersadar. Diketik rapi, dengan spasi 1,5 diatas kertas bekas bungkus kacang yang entah ia temukan dari mana. Kesurupankah? Ia tidak yakin. Ia tahu reputasinya selama ini mungkin cukup buruk untuk membuat jin kelas teri terjengkang terbirit ketika melihat tubuh kurusnya melintasi kuburan. Dan tulisan itu? Pada akhirnya toh hilang. Tidak ada yang tahu. Nasibnya entah berakhir di tumpukan sampah, hilang dan menyatu dengan bumi, atau kembali menjalani takdir sebagai bungkus kacang.

Lalu apa yang membuatnya menjadi penulis?

Sebuah keajaiban. Sama seperti keajaiban lain yang membuatnya tiba bisa membaca al-Quran dengan fasih ketika pertama menginjakkan kaki di bumi jogja, juga tidak jauh berbeda dengan keajaiban yang membuatnya tiba-tiba memahami arti dari ayat-ayat al-Quran yang ia baca. Sebuah keajaiban, seperti halnya keajaiban yang mempertemukannya dengan orang-orang luar biasa di sekelilingnya. Tapi ia tidak sedang berbicara tentang keajaiban yang datang tiba-tiba begitu saja. whuz…selayaknya angin yang mengalir, lalu tiba-tiba hidupnya berubah drastis. Tidak, ia tidak berbicara tentang keajaiban yang seperti itu. Entah bagaimana bentuk keajaiban itu, semua keajaiban-keajaiban itu hadir sebagai konsekuen dari pilihan-pilihan yang telah ia ambil, dan tentu saja, ada resiko besar dari keajaiban-keajaiban itu. Katakanlah, kawan kita yang satu ini adalah pengecualian. Beberapa keajaiban yang diberikan kepadanya datang dengan tiba-tiba. Tapi toh tidak semua keajaiban itu datang seperti itu. Adakalanya, sama seperti ia ketika menemukan keajaiban dari makna metamorphosa, ia butuh waktu berbulan-bulan. Bukan waktu yang singkat tentu saja. Atau, ketika ia menemukan 3 orang luar biasa yang merubah total hidupnya, ia butuh waktu 7 tahun untuk menarik analogi dari 3 orang itu!

Baiklah, katakan saja si penulis menguasai kemampuan memanipulasi kata-kata dalam satu malam. Sebuah keajaiban seketika? Barangkali bukan. Seperti yang telah diceritakan dalam narasi sebelumnya, si penulis juga beberapa kali sempat berlatih menulis. Kadang, ia mengalami kejadian-kejadian ‘aneh’ seperti yang sudah dikisahkan, tapi tak jarang pula kertas tak berdosa ukuran A4s di depannya menjadi korban. Diremas, dicabik, diremuk, terserpih menjadi lembar-lembar kecil sobekan kertas putih, lantaran penulis frustasi dan gemas akan ketololannya pada dirinya sendiri. Ia tidak menghasilkan tulisan apapun! Atau, anda mungkin menemukannya ringan bermain dengan diksi atau rima. Tapi toh itu tidak gratis. Ada harga yang harus dibayar, dengan berjam-jam bermain plesetan, lalu tertawa terbahak karena saking lucunya.

Ia memilih menjadi penulis karena ia ingin menciptakan keajaiban.

Bayangkan saja, kata-kata itu mungkin bisa teronggok begitu saja dalam otak. Meracuni neuron sebagi hafalan tanpa makna. Tapi menulis telah menciptakan keajaiban dengan memberikan makna pada setiap huruf, morfem yang digoreskan. Pada setiap kata, fonem yang dituliskan. Dan pada setiap kalimat, bait dan syair yang dibacakan pada akhirnya. Ia memberinya ruh, semangat jika tulisan itu berapi-api. Melodi, ketika tulisan itu ditulis dengan bait-bait ritmis. Dan symphoni, ketika tulisan itu rancak bermain nada, rima, dan rentak ritmis yang menyihir. Menulis telah menciptakan keajaiban bagi kata-kata. Ia memberikan kepadanya makna.

Ah, apakah menulis itu sulit?

Menulis adalah keajaiban. Ciptakan saja keajaiban dengan penamu sendiri.

serius mode:on
kali ini judulnya ditulis dengan bener..T_T

assalamualaikum

untuk bulan ini, seperti biasa, rapat majelis syariah diadakan hari jumat minggu pertama (1 mei) di masjid nurul barokah jam 4 sore.

agenda kali ini cukup banyak,
- evaluasi wa rekomendasi majelis
- plan 1 bulan kitta 2006
- evaluasi wa rekomendasi 3 lembaga
- plan 1 bulan lembaga
- tentang milis
- optimalisasi media dan penegasan aturan
- reunion?

teman-teman yang punya waktu luang silahkan datang, tapi konfirmasi dulu yak…

CP ikhwan: fathan
CP putri : risma

kabar siang

assalamualaikum ya akhi fiilah…

insya Allah tanggal 4 April 2009 besok akan diadakan acara “kumara” (kumpul makan bareng-bareng KITTA). tapi makane gak dijamin dinks. he3X

mau tau info lengkapnya?
hubungi KITTA center:
ikhwan : Fathan
Akhwat : Risma

keep fight…

info tim syariah

assalamualaikum

kabar terbaru dari tim syariah nih. untuk bulan ini, syuro bulanan diadakan di masjid nurul barokah jam 15.45. agendanya, membahas hasil survey dan membahas dua problem internal angkatan yang muncul kemarin.

kalau teman-teman ada waktu luang, datang aja nggih. tapi bagi yang mau datang tolong konfirmasi ke fathan atau mbak risma dulu. paling lambat sehari sebelumnya.

wassaalamualaikum

PS: data survey baru selesai kamis sore, bagi yang butuh hub saya atau tim internal.

agenda-agenda di MIPA

agenda-agenda di MIPA

apa aja ya?? sharing dikit nih ya…

tadi, Selasa, 24 Februari 2009, ada acara CERAH di MMU. GREAT!!! keep on moving brothers, sisters!!^_^

(btw, KITTA gimana nih??)

besok, Rabu, 25 Februari 2009 ada SOSIALISASI PKMI di ruang A107 FMIPA UGM. pk 09.00-11.30

hmm, ada yang mau sharing lagi kah??

we will not go down(GAZA)

gaza

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our
schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our
schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

–in Indonesian–

KAMI TIDAK AKAN MENYERAH (Lagu untuk Gaza)
(komposer : Michael Heart)

Cahaya putih yang membutakanmata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar

Tapi kata kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam_asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu ditengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini.

Tulisan Sebelumnya »